Jika anda ingin mendownload bigrafi ini dalam bentuk PDF, Klik Disini.


Cerita Panjang Pelepah Pisang

   Fuad kecil memang “kenyang” dengan penderitaan. Ia tinggal bersama lima saudara kandungnya di rumah yang menurut ibunya tidak lebih bagus dari kandang domba. Berbilik bambu. Beralaskan tanah. Ayah Fuad dikenal sebagai kiai desa. Pekerjaannya sebagai Panitera Pengadilan Agama dan sering pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan pernah bertugas di Buton, Sulawesi Selatan. Itu sebabnya Fuad jarang bertemu dengan ayahnya. Sementara penghasilan ibunya sebagai pegawai negeri tidak pernah utuh. Ibunya tidak mau mencari pekerjaan lain selain mengajar. Dengan tanggungan anggota keluarga yang cukup banyak, dan kiriman uang dari bapak yang tidak menentu, bisa dibayangkan sulitnya menjalankan ekonomi keluarga.

   Kondisi itulah yang membuat Fuad harus berpikir keras bagaimana caranya membantu ibunya mencari penghasilan. Semasa sekolah Fuad dititipkan di rumah neneknya yang tinggal dekat dengan sekolah dasar (SD), namanya SD Sukamanah, tempat ia menuntut ilmu. Di rumah neneknya itulah Fuad mendapat inspirasi untuk memanfatkan kebun pisang di belakang rumah sebagai ladang pekerjaan. Setiap usai pulang sekolah ia pergi ke kebun mengumpulkan pelepah pisang. Dalam jumlah yang dianggap cukup ia menjemur pelepah-pelepah itu. Sementara sambil menunggu pelepah kering ia memanfaatkan waktu untuk bermain dengan teman- temannya di tegalan, huma, pematang sawah, atau kebun-kebun yang luas sambil menggembala kambing milik tetangganya. Setelah kering, pelepah-pelepah pisang itu ia potong panjang-panjang, lalu diurai menjadi bagian-bagian kecil dan dibuatkan tali rapia. Kemudian tali rapia itu ia jual ke warung atau pasar untuk pengikat belanjaan.

   Dari pekerjaan itulah Fuad kecil mendapatkan uang untuk jajan dan menabung. Pernah ia ditanya oleh gurunya, uang tabungannya nanti akan dipakai untuk apa? Dengan polosnya Fuad menjawab uang itu untuk beli vitamin dan telor supaya ibunya yang kurus bisa gemuk. Pada kali yang lain, uang yang ia bawa ke sekolah untuk ditabung sejumlah Rp. 50,- hilang entah di mana. Ini membuat Fuad malu karena ia menyadari uangnya hilang itu ketika sudah berada di depan meja ibu guru untuk menyetor uang tabungan. Ia berusaha mencari di seantero ruangan kelas tapi uang itu tidak ditemukan. Maka ia pulang dengan perasaan tidak menentu, bukan karena kehilangan uang, tapi lebih-lebih karena perasaan malu tadi. Ketika semua murid sudah pulang, ibu guru berjalan ke luar kelas dan secara tidak sengaja menemukan sekeping uang Rp. 50,- di depan pintu. Keesokan harinya ibu guru memberikan uang itu kepada Fuad. Tapi apa yang terjadi? Fuad ternyata menolak uang tersebut. Betul jumlah uang itu Rp. 50, tapi uang Fuad yang hilang itu dua keping masing-masing Rp.25. Jadi uang yang ditemukan bu guru itu bukan miliknya karena itu dia tolak. “Fuad memang dikenal jujur sejak kecil,” tegas Ibu Salmah kepala sekolah yang juga gurunya di SD tempat Fuad belajar. Tidak heran kalau Fuad disayang oleh guruguru dan kepala sekolah. “Selain itu dia juga selalu menjadi juara kelas, dan terbaik di semua mata pelajaran,” kenang Ibu Salmah yang tampak amat bangga kepada Fuad. Hingga saat ini pun setiap kali menerima uang dari hasil pekerjaannya menulis, seminar atau sebagai konsultan public relation, Fuad selalu teringat pada masa kecilnya mengurai pelepah pisang menjadi tali-tali rapia, mengangkutnya ke pasar, menawarkan kepada para pedagang, dan... menerima uang.

   Dengan uang di tangan, ia selalu teringat ibunya yang menderita. “Banyak ibu-ibu yang menderita, tapi ibu saya yang paling menderita. Banyak ibu-ibu yang sederhana, tapi ibu saya yang paling sederhana. Banyak ibu-ibu yang menangis, tapi ibu saya yang paling sering menangis dalam hidupnya,” ujar Fuad terbata-bata. Fuad bercerita, ibunya sebenarnya lebih dari sekadar sederhana. Ia tidak pernah memakai perhiasan emas apakah itu kalung, gelang, cincin. Ia tidak sanggup membelinya karena keterbatasan ekonomi. Dan saat sekarang Fuad punya kemampuan untuk membelikannya perhiasan, ibunya menolak lembut dengan alasan hidupnya sudah terbiasa tanpa perhiasan. Lagi pula dengan perhiasan itu ia khawatir akan menyinggung perasaan ibuibu petani dan ibu-ibu rumah tangga di jalan setapak yang biasa ia lalui ketika berangkat dan pulang mengajar.

   Pernah suatu kali Fuad ingin membelikan ibunya sepeda motor untuk keperluan mengajar di sekolah atau pergi ke pasar. Tapi lagilagi ia menolak. Alasannya, kalau ia ke pasar naik motor sendiri bagaimana dengan tukang ojek langganannya, nanti akan kehilangan mata pencaharian. Baru sekarang, setelah sering sakit-sakitan dan harus berobat bolak-balik ke Jakarta, ia mau dibelikan sebuah kendaraan mobil oleh Fuad. Di mata Fuad, cerita masa kecil lebih dari sekadar kenangan, tetapi juga sebuah fase penting dalam proses “menjadi” (to be) dirinya yang belum—dan boleh jadi tidak akan pernah—selesai. Fase itu, diakuinya, banyak membentuk kepribadiannya sekarang. Yang menarik, Fuad justru sangat bersyukur bahwa ia pernah menderita, karena dari penderitaan itu ia bisa menghayati dan mengamalkan pelajaran dari ibunya tentang sabar dan ikhlas. Fuad juga tidak merasa menderita sendirian. Dulu penderitaan itu ia hayati bersama keluarga, sanak saudara, dan teman-teman sekampungnya.

   Saat ini, ketika langkah kakinya sudah cukup jauh dan wawasannya bertambah, ia melihat penderitaan itu milik banyak orang. Itu sebabnya ia berpandangan bahwa pemimpin yang dalam hidupnya tidak pernah menderita tidak akan pernah bisa merasakan penderitaan rakyat. Pemimpin semacam itu hanya bisa mengucapkan katakata simpatik terhadap penderitaan rakyatnya, tetapi tidak akan pernah bisa berempati dan terlibat dalam penderitaan rakyat. Mengurai jalan hidupnya, bagi Fuad, sama seperti ketika ia mengurai pelepah-pelepah pisang menjadi tali-tali rapia. Hidup ini sendiri baginya memang ibarat rentangan tali rapia yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Apa yang didapat oleh seseorang saat ini merupakan buah pekerjaannya di masa lalu. Dan apayang ingin diperoleh seseorang di masa depan harus dikerjakan pada masa sekarang. Siapa yang menanam kurma akan memetik buah kurma.

   “Agama Islam mengajarkan bahwa kita hanya akan memperoleh apa yang kita lakukan, tidak bisa berharap dari orang lain,” ujar Fuad mengutip sebuah ayat al-Quran, seraya menurutkan perjalanan hidupnya yang memang tidak pernah bergantung pada orang lain. Semua harus dilakukan sendiri, dengan keyakinan, kemampuan, dan tanggung jawab.

Bertabur Prestasi

   Hidup dalam tempaan penderitaan membuat Fuad matang secara emosional dan spiritual. Namun pada saat yang sama, ia juga berontak untuk mengubah nasib. Ia tidak mau terpuruk. Dan Fuad yakin kalau ia mampu karena memang memiliki kemampuan. Hal itu ia buktikan sendiri sejak kecil sampai kelak ia dewasa, dimana ia selalu dicari dan dibutuhkan orang. Meski sejak kecil kurang mendapatkan asupan makanan yang bergizi, Fuad bukanlah murid yang “lambat” dalam berpikir dan bersosialisasi. Sebaliknya, ia dengan tubuh kerempengnya justru melesat melampaui teman-teman semasanya. Fuad, misalnya, hanya butuh waktu 5 tahun untuk menyelesaikan sekolah dasar (SD) nya.

   Alkisah, ketika duduk di kelas 5 Fuad ditawari kepala sekolah untuk ikut test ujian akhir, mengingat bakat dan kecerdasannya. Tawaran itu ia terima, dan ternyata ia lulus dengan nilai yang memuaskan. Menurut gurunya yang juga kepala sekolah, Ibu Hj Salmah, Fuad memang murid yang cerdas dan berbakat. Ia selalu menjadi juara pertama setiap tahun. Ia selalu terbaik dalam semua mata pelajaran. Ia bahkan sudah pandai membaca sejak sebelum masuk sekolah. Fuad kecil juga dianggap punya bakat memimpin. Ia selalu ditunjuk menjadi ketua murid sejak kelas satu hingga lulus.

   Fuad pernah mewakili wilayah kecamatannya untuk mengikuti lomba membaca tingkat kabupaten Bekasi. Dia waktu itu berangkat bersama Eep Saefulloh Fatah, kakak kelas tiga tingkat di atasnya, yang biasa ia panggil mamang (panggilan dalam bahasa Sunda untuk paman) karena memang masih ada hubungan saudara. Eep Saefulloh Fatah—kini ia adalah penulis kolom dan pengamat politik yang disegani—waktu itu dikirim untukmengikuti lomba mengarang. Di ajang lomba itu Fuad berhasil meraih juara harapan I, suatu prestasi yang mengawali prestasi-prestasinya yang lain yang lebih baik lagi. Karena test ujian akhir yang dijalaninya berhasil, maka Fuad berkesempatan melanjutkan ke jenjang sekolah yang lebih tinggi. Dan ia memilih sekolah-pesantren Tsanawiyah, bukan SMP, karena sejak awal ibunya menghendaki ia belajar ilmu agama. Selain itu, tradisi loncat kelas—sekalipun dengan alasan anak itu pandai—tidak bisa diterima di SMP yang berada di bawah Departemen P & K (Pendidikan dan Kebudayaan; sekarang berganti nama menjadi Departemen Pendidikan Nasional [Depdiknas]). Sedangkan Tsanawiyah dalam soal ini lebih fleksibel, karena ia adalah sekolah-pesantren yang disamakan akreditasi dan mata pelajarannya dengan sekolah umum, hanya saja ia ditambah pelajaran agama.

   Jarak dari rumah Fuad ke Tsanawiyah Al-Baqiyatus Shalihah— nama pesantren tempatnya belajar itu—sekitar 3 kilometer. Hampir setiap hari ia selalu menempuhnya dengan berjalan kaki karena tidak punya uang untuk ongkos. Dengan pakaian sekolah yang hanya satu, Fuad terkadang harus membolos kalau musim hujan lantaran tidak ada baju lagi. Sementara baju yang biasa ia pakai masih basah. Sepatu? Bukankah pada umumnya anak-anak desa bersekolah dengan bertelanjang kaki? Dan itu, kata para ahli, yang juga diamini oleh Fuad, justru lebih sehat baik secara fisik maupun spiritual. Dengan kaki yang menginjak bumi kita menjadi menyatu dengan tanah yang merupakan asal kita dan tempat kelak kita akan kembali. Kerikil-kerikil yang terinjak kaki menjadi alat pijat alami bagi susunan syaraf yang berpusat di telapak kaki. Sementara itu sepatu menciptakan jarak antara kita dengan bumi. Dengan filosofi itu, tidak jarang Fuad terlihat berjalan pagi berolah raga ringan tanpa alas kaki, sekadar untuk “menyatu dengan alam”, sebuah peristiwa spiritual yang ia rasakan begitu mewah di kota besar seperti Jakarta ini, padahal dulu di kampungnya menjadi ritual harian.

   Di sekolah-pesantren Tsanawiyah itu Fuad belajar keras menyesuaikan diri dalam banyak mata pelajaran karena ia tidak mengalami pelajaran di kelas VI SD, padahal pelajaran kelas VI SDdengan kelas I SMP itu hampir sama. Selain tekun belajar, Fuad juga aktif di kegiatan seni, terutama seni relijius, karena sejak kecil ia sering melantunkan al-Qur’an dengan tilawah atau menjadi qori. Ia juga sering mengikuti lomba azan, lomba pidato, baca puisi Islam, dan sebagainya. Aktivitas yang lain juga ia tekuni seperti OSIS, pramuka dan olahraga. Yang paling menonjol adalah bahwa Fuad selalu menjadi pemimpin di semua kegiatan, selain selalu menjadi ketua kelas dan juara kelas.

   Ketika lulus Tsanawiyah Fuad merasa sedih karena teman-temannya bisa melanjutkan sekolah ke luar daerahnya seperti ke Jombang, Gontor, Jakarta, dan Bogor, sementara dia tidak bisa karena tidak ada biaya. Satu-satunya yang paling mungkin bagi Fuad adalah melanjutkan sekolah di pesantren itu juga, untuk tingkat Aliyahnya. Mau tidak mau, Fuad harus realistis menerima kenyataan ini. Sambil belajar ia kembali terjun di berbagai organisasi intra maupun ekstra sekolah. Kegiatan Pramuka ia ikuti hingga tingkat kabupaten. Di SLTA, selain selalu juara kelas dan menjadi asisten gurunya, Fuad kembali mengukir berbagai prestasi. Pada 1987, ketika duduk di kelas II ia mengikuti lomba karya tulis ilmiah santri tingkat nasional dalam rangka menyambut Hari Aksara Nasional di Pesantren Tebu Ireng Jombang, Jawa Timur. Sebuah karya ilmiah ia kirimkan, mewakili pesantren-sekolah tempatnya belajar. Di luar dugaan ternyata Fuad masuk nominator 10 besar. Ia diundang ke Jombang untuk presentasi dan berdebat. Meski ini bukan pengalaman ilmiahnya yang pertama, tetapi perjalanan ke Jombang menjadi pengalaman manis tersendiri. Sebab, untuk pertama kalinya Fuad merasa “keluar kandang”. Ia naik kereta ekonomi dari stasiun Senen. Ternyata yang menjadi juri lomba karya tulis itu adalah, di antaranya, Emha Ainun Nadjib dan Ragil Suwarno Pragolapati (alm)—keduanya penulis dan penyair ternama.

   Sebagai nominator Fuad diberi kesempatan mengikuti kursus menulis dan jurnalistik dibimbing oleh Ragil Suwarno Pragolapati. Dari situ Fuad mengaku banyak belajar tentang bagaimana menulis dengan baik. Ketertarikannya pada dunia tulis menulis semakin besar. Sejak itu pula ia berujar pada dirinya sendiri, semacam ikrar, bahwa ia akan punya masa depan dengan menjadiseorang penulis. Dan ikrar itu kemudian ia buktikan. Saat ini Fuad sudah cukup malang melintang di dunia tulis menulis—meski dia mengaku belum menjadi penulis besar dan terkenal. Karya-karyanya dalam bentuk buku terus bermunculan. “Dalam satu tahun paling sedikit saya harus menerbitkan dua judul buku,” ujar Fuad. Selain menjadi penulis dan editor buku, Fuad juga rajin menulis kolom-kolom pendek. Artikel-artikel lepasnya selalu menghiasi lembaran-lembaran media massa nasional. Fuad terus mengikuti langkah kakinya dari lomba ke lomba. Ia pernah mewakili sekolah dan sekaligus kecamatannya mengikuti lomba syarhil Qur’an atau penafsiran al-Qur’an. Di situ ia menjadi juara I. Ia juga menjadi juara I dalam lomba cerdas cermat isi kandungan al-Qur’an se-kabupaten Bekasi. Dari situ ia kemudian diikutsertakan mewakili kabupaten Bekasi ke ajang lomba cerdas cermat isi kandungan al-Qur’an tingkat Propinsi Jawa Barat. Di arena itu ia berhasil menyabet juara III.

Berutang Budi kepada KNPI

   Lulus sekolah-pesantren Aliyah bagi Fuad merupakan suatu kebahagiaan yang sulit dijelaskan. Dalam kondisi ekonomi yang serba terbatas dan biaya hidup yang serba pas-pasan, ia toh mampu menyelesaikan sekolah dengan baik. Sebagai anak yang tahu kapasitas dan potensi yang dimilikinya, Fuad berpikir mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Tapi masalahnya lagi-lagi, dari mana biayanya? Kuliah butuh uang yang tidak sedikit. Saudara-saudaranya mengingatkan Fuad untuk “tahu diri”, yang lainnya lebih menghibur dengan mengatakan, “Sudahlah, orang seperti kita bisa sekolah sampai tingkat menengah saja sudah bagus.” Tapi Fuad tetaplah Fuad yang ngotot dalam soal yang menyangkut pendidikannya. Di SD saja waktu kecil ia bisa meracik tali rapia dan dijual uangnya untuk sekolah dan menabung, apalagi sekarang dia sudah remaja. Begitu pikir Fuad waktu itu. Di tengah kebimbangan yang mendera itulah ia teringat pada tabungannya di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Uang tabungan itu mulanya adalah hadiah yang ia peroleh dari lomba pidato pemuda tingkat kabupaten Bekasi yang diselenggarakan oleh Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Bekasi.

   Semasa di sekolah, di tingkat kecamatan Cibarusah Fuad sudahmengenal dan aktif di KNPI. Bahkan, di tingkat KNPI Kabupaten Bekasi, Fuad aktif mengikuti berbagai kegiatan kepemudaan sejak tahun 80-an. Peristiwa itu terjadi pada 1988, saat Fuad duduk di bangku Aliyah kelas III menjelang akhir. Namun Fuad ketika itu mewakili kecamatan, bukan mewakili sekolahnya. Kesibukan Fuad bukan hanya menyiapkan materi pidato, tapi juga penampilan dirinya. Di hadapan para juri dan pentas terbuka, ia pasti dituntut berpenampilan rapi. “Semua pintu rumah tetangga dari ujung ke ujung diketuk untuk mencari semir sepatu, supaya sepatunya tidak terlalu kelihatan bule, sebab Fuad tidak bisa beli sepatu baru,” tutur ibunya mengenang. Karena yang dimaksud “pemuda” itu sangat luas, maka lomba itu diikuti oleh berbagai lapisan, termasuk para sarjana. Tapi Fuad ternyata berhasil menunjukkan kemampuannya dalam berpidato. Ia mampu menyisihkan para pesaingnya dan berhasil menjadi juara I. Dari lomba itu Fuad mendapat hadiah, selain piagam penghargaan juga uang dalam bentuk tabungan di BRI. Uang inilah yang kelak menyelamatkan Fuad dari frustasi akibat tidak bisa melanjutkan sekolah ke bangku perguruan tinggi. Dengan uang dari KNPI itu ia mendaftarkan diri untuk kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

   Fuad merasa berutang budi kepada KNPI. Bukan saja karena ia telah diselamatkan nasib studinya, tapi juga ia memang dekat dan terlibat dengan para aktivis KNPI sejak perlombaan yang dimenangkannya itu pada tahun 1988. Entah karena merasa ingin menjadi pemuda yang berguna seperti kakak- kakak yang aktif di KNPI itu, atau juga karena ingin “keluar dari kandang” seperti teman-temannya yang sekolah di kota lain, yang jelas sejak itu Fuad merasa memiliki keterlibatan emosional dengan KNPI. Itu sebabnya Fuad sangat bangga ketika ketua KNPI Bekasi, Bung Adi Miftah, datang ke rumahnya di desa. Ia menjemput Fuad untuk diantar ke Bandung mengikuti lomba pidato tingkat propinsi Jawa Barat. Ia senang karena dalam usia remaja sudah bisa membawa nama KNPI dan mewakili Kabupaten Bekasi di tingkat propinsi. Dari lomba pidato tingkat propinsi itu ia mendapatkan uang saku yang lumayan banyak, yang kelak ia gunakan untuk mendaftar kuliah di IAIN Jakarta. “Saya tidak membayangkan bahwa KNPI lah yang membuat saya bisa menikmati pendidikan tinggi,” ujar Fuad lirih.

Kuliah sambil Kuli

   Setelah menjalani test selama 3 hari, Fuad akhirnya diterima sebagai mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta tahun 1989. Tentu ia sangat bersyukur dengan keberhasilannya, karena masuk IAIN ketika itu bukan perkara mudah. Calon-calon mahasiswa IAIN ketika itu didominasi oleh para alumni pesantren modern seperti Gontor, Pabelan, Darun Najah, dan lain-lain yang sudah memiliki tradisi meluluskan santrinya ke IAIN. Sedangkan Fuad hanya lulusan sekolah agama yang tidak terkenal. Tapi toh ia lolos juga. Ia sujud syukur. Pulang dan memeluk ibunya yang berlinangan air mata.

   Saat berangkat ke Jakarta untuk kuliah, ayahnya kembali mengingatkan agar Fuad selalu tegar menghadapi hidup dengan tiga prinsip: pertama, hidup harus tahan menderita; kedua, hidup harus bisa menerima keadaan; dan ketiga, hidup harus mampu kendalikan hawa nafsu. Itulah di antara nasehat ayahnya yang selalu ia pegang erat demi meraih cita-cita. Di IAIN Jakarta Fuad memilih Fakultas Syariah. Alasan Fuad masuk IAIN Jakarta karena ia memandang IAIN Jakarta sebagai tempat yang tepat karena merupakan lembaga pendidikan terbesar dan terbaik di bidang agama Islam. Lebih dari itu, kuliah di Jakarta akan mendekatkan dia pada dunia yang lebih luas yang selama ini hanya dibayangkannya ketika melihat teman- teman sekolahnya lebih dulu “keluar kandang”. Tentu saja ada alasan spiritual yakni dorongan untuk mendalami agama, sebagaimana juga diharapkan oleh ibunya. Jelas, menjadi mahasiswa merupakan suatu “kemewahan” bagi seorang anak desa yang hidupnya selalu kekurangan. Tapi Fuad sudah bertekad untuk mengenyam pendidikan yang lebih tinggi. Ia ingin memulai tradisi kesarjanaan di lingkungan keluarganya. Setelah resmi diterima di IAIN Jakarta, Fuad berangkat dari kampungnya dengan uang dari hasil lomba pidato KNPI dan bantuan dari Pak Camat sebesar Rp. 200 ribu. Ibunya sedih melihat Fuad berangkat hanya dengan 2 stel pakaian. Lebih sedih lagi karena Fuad berpesanpada ibunya supaya tidak ditengok. “Jangan ingin tahu Fuad kuliah, tahu-tahu nanti diwisuda saja”, begitu tutur ibunya menirukan katakata Fuad waktu itu.

   Selama Fuad menjadi mahasiswa, orangtuanya mengirimkan uang setiap bulan dari hasil beternak ayam, tapi diakui oleh ibunya uang itu hanya cukup untuk makan. Untuk menutupi kebutuhan yang lainnya, terpaksa Fuad harus mencari sendiri. Ia mengajar privat, menjadi guru mengaji dan sekaligus pembantu rumah tangga di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan. Sabar dan ikhlas, itulah pesan ibunya yang selalu ia ingat ketika tangannya mulai menggunting rumput, menyirami bunga, mencuci mobil, dan mengepel lantai rumah majikannya. Dari pekerjaan itulah Fuad bisa memenuhi kebutuhan seharihari sebagai mahasiswa seperti membeli buku, memfoto kopi, dan lain-lain.

   Di samping menjadi guru mengaji dan pembantu rumah tangga, Fuad juga meneruskan kebiasaannya menulis artikel. Tulisan pertamanya ketika mahasiswa adalah tentang ibunya, dimuat di Majalah Kartini dalam rubrik “Oh Mama Oh Papa”. Ibunya tahu tulisan itu dimuat karena kliping tulisan beserta foto Fuad dan honornya dikirim ke kampung. Honornya sebesar Rp. 40.000. Ibunya semula tidak mau menggunakan uang itu sepeser pun karena ingin menunjukkan ke Fuad seluruhnya kalau anaknya nanti pulang. Tapi ia terpaksa harus menggunakan uang itu Rp. 10.000 karena keperluan yang mendesak. Ketika Fuad pulang, ia menunjukkan tulisan anaknya itu dengan perasaan bangga, kemudian meminta maaf karena honornya terpaksa dipakai Rp. 10.000. Melihat ibunya merasa bersalah Fuad menjadi kikuk. Buru-buru ia menjelaskan bahwa honor itu memang sengaja dialamatkan ke kampung untuk ibunya karena itu hasil tulisan pertamanya. Fuad ingin membuktikan ucapannya dulu kepada ibunya bahwa kalau ia kuliah tulisannya pasti akan dimuat di koran dan majalah. Memang, setelah itu tulisan-tulisan Fuad terus mengalir. Suatu hari ketika mengambil gaji di kantor kabupaten Bekasi, ibunda Fuad melihat koleganya sesama guru tengah berkerumun. Rupanya mereka sedang memperhatikan tulisan dan foto yang mereka kenal di sebuah majalah. Tulisan dan wajah di foto itu adalah wajah Fuad yang terpampang di majalah Media Pembinaan terbitan Departemen Agama. Majalah itu menjadi bacaan wajib bagi guruguru agama, sehingga teman-teman ibunya sesama guru pun jadi tahu ada tulisan dan foto anaknya Ibu Maskanah di situ. Perasaan bangga bercampur haru menyelinap di benak perempuan sederhana itu. Tiba-tiba saja ia merasakan rindu yang teramat sangat pada anaknya, rindu yang menggelayut berat di pundak, menohok ulu hati dan memeras- meras airmata...

   Di kampus Fuad tidak hanya kuliah. Ia dikenal aktif dalam berorganisasi. Di intra kampus dia masuk senat. Dalam kegiatan ekstra kampus ia aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Ia memilih PMII karena dalam pandangannya PMII merupakan kelompok pinggiran dan tertindas di lingkungan kampus. Kebanyakan yang tergabung dalam PMII adalah anak-anak NU dari kampung. Obsesi Fuad adalah mengangkat kelompok pinggiran itu dari posisinya yang minoritas. Sementara itu dia melihat organisasi kemahasiswaan lain seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) begitu berkibar dan menjadi “penguasa” kampus. Tokohtokoh mahasiswa, pejabat kampus, dekan dan pembantu rektor, semuanya orang HMI. HMI juga telah melahirkan nama-nama besar seperti Nurcholish Madjid, Fachry Ali, Azyumardi Azra, Komaruddin Hidayat, dan lain-lain. Demikan pula, Fuad juga akrab dengan lingkungan IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) yang termasuk aktivis kelas menengah intelektual di kampus yang melahirkan tokoh sekaliber Dien Syamsudin. Selain karena alasan ideologis dan kedekatan kultural sebagai orang kampung dengan PMII, Fuad memilih PMII sekaligus sebagai rumah tinggalnya. Sampai semester 6 ia tidur berdesak-desakan dengan sesama aktivis di asrama PMII, karena memang tidak punya biaya untuk sewa kamar kos. Waktu itu Fuad dikenal sebagai aktivis sejati karena memang siang malam ada di kampus.

   Pacaran? Tentu saja sebagai anak muda yang punya hasrat Fuad tertarik dengan wanita. Apalagi sebagai aktivis ia banyak bergaul dengan mahasiswi-mahasiswi cantik. Tapi, akunya, ia menahan diri karena pacaran baginya butuh bia-ya untuk nonton, jalan, makan. Kalau lagi ada uang ia sisihkan untuk sekolah adik-adiknya di kampung. “Saya memposisikan diri saya sebagai bapak buat adik-adik saya. Saya memastikan agar setiap lebaran adik-adik saya pakai baju baru. Untuk itu saya harus menabung agar menjelang lebaran bisa ke Pasar Tanah Abang membeli pakaian,” kenang Fuad.

   Meski aktif di PMII, Fuad tetap akrab dan menjalin hubungan baik dengan aktivis mahasiswa dari elemen yang lain. Dengan temanteman HMI, misalnya, ia mengaku berhubungan sangat baik. “Saya banyak belajar, berguru, dan berinteraksi dengan mereka. Saya tidak pernah punya rivalitas atau membangun perlawanan,” Fuad menjelaskan. Filosofi senyum yang diajarkan ibunya benar-benar diuji ketika ia terlibat dalam persaingan memperebutkan posisi ketua senat. Semua ketua senat fakultas waktu itu adalah orang-orang HMI. Fuad yang merasa pinggiran tentu saja berat harus berhadapan dengan orangorang HMI yang sudah punya nama besar dan tradisi berkuasa di IAIN Jakarta. “Tersenyumlah kepada orang yang memusuhimu!” Kata-kata yang diucapkan ibunya itu seperti obat penawar baginya. Dengan filosofi senyum ia mengubah lawan menjadi kawan, mengurangi musuh, meminimalisasi persaingan, dan membalik yang negatif menjadi positif. Hasilnya? Di lingkungan kampus dimana PMII menjadi minoritas, Fuad justru kemudian terpilih menjadi satu-satunya Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Syariah (1992- 1994) dari kalangan non-HMI. Fuad berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu 5 tahun. Terbilang cepat untuk seorang aktivis. Karena “tradisi” para aktivis adalah menjadi MA alias mahasiswa abadi. Yakni, kuliahnya tidak selesai-selesai karena terlalu asik di organisasi. Saat wisuda adalah saat Fuad menunaikan janji kepada orangtuanya untuk diajak ke kampus tempatnya belajar.

   Baru menjelang berakhirnya kuliah di program strata 1 (S1) Fuad tak lagi mampu membayar penggandaan skripsi dan biaya wisuda. Untuk itulah, sang ayah rela menjual satu-satunya binatang peliharaan, seekor sapi yang dibeli dari hasil uang pensiun ayahnya untuk menebus biaya akhir studi Munawar Fuad di perguruan ting-gi. Fuad sebenarnya tak tega harus mengorbankan sapi milik ayahnya. Tapi, terbersit doa dan tekad dalam hatinya, kelak ia akan mengganti pengorbanan tulus orangtua dengan sapi yang lebih banyak. Dan doanya sudah terkabul. Kini di samping rumah orangtuanya di desa Babakan Cibarusah, terdapat kandang sapi yang dihuni oleh beberapa ekor sapi.

   Dengan uang dari menjual sapi itu pula kedua orangtuanya berangkat ke Jakarta untuk menyaksikan anaknya diwisuda. Orangtua mana yang tidak terharu dan bangga melihat anaknya memakai toga dan dilantik menjadi sarjana. Sebuah perjalanan telah tiba di tujuan. Perasaan lelah pun sirna begitu saja digantikan rasa suka cita. Penderitaan hilang diganti senyum yang mengembang. Ada tahap-tahap dalam hidup di mana kita harus berhenti sejenak untuk istirah dan bersyukur. Alhamdulilllah. Fuad memang hanya berhenti sejenak. Hasratnya untuk terus menimba ilmu tak pernah pudar. Setelah lulus S1, ia segera melanjutkan ke pasca sarjana IAIN Jakarta. Di program S2 ini ia mengambil disiplin ilmu Islam dan Tata Negara. Beruntung, Fuad langsung menimba ilmu dan pengalaman dari seorang yang amat ahli di bidangnya, almarhum Prof. DR. Munawir Sadzali, mantan Menteri Agama dan seorang diplomat ulung. Di program paska sarjana IAIN Jakarta ini ia menyelesaikan studinya pada tahun 1998

Ilmu Sabar dan Ilmu Ikhlas

   Meski tampak sepele untuk diucapkan, ilmu sabar dan ilmu ikhlas itu sungguh bukan ilmu biasa. Ibunya mengajarkan itu sebagai filosofi sekaligus praktek. “Kehidupan agama di keluarga saya sangat amaliyah,” tegas Fuad. Sejak kecil Fuad terbiasa bangun malam untuk shalat tahajud. Beban hidup yang mendera dia dan keluarganya ia komunikasikan dengan Tuhan di keheningan malam. Jika memang itu yang terbaik dalam pandangan Tuhan, maka ia ikhlas dan sabar menerimanya.

   Di kampungnya, suasana relijius juga tampak menonjol. Norma agama dan tradisi berjalan beriringan. Pandangan Fuad sendiri terhadap tradisi sangat kuat karena menurutnya tradisi merupakan sesuatu yang sangat penting. Tradisi adalah rumah kultural dimana seseorang diasuh, tumbuh, besar, dan berso-sialisasi. Tradisi menjadikan orang secara psikologis nyaman karena memiliki akar budaya. Orang yang tercerabut dari akar budayanya akan mudah mengalami split personality, labil, dan bahkan radikal. Oleh sebab itu, Fuad tidak melihat sesuatu yang buruk dari tradisi, sekalipun dari kacamata keimanan. Baginya, agama dan tradisi tidak perlu dipertentangkan. Justru satu sama lain harus saling mendukung. Tidak boleh saling menafikan. Di kampung Babakan Desa Cibarusah tempat Fuad dilahirkan, guru memiliki status sosial yang terhormat. Oleh sebab itu banyak anak-anak yang cita-citanya ingin menjadi guru. Tidak terkecuali Fuad sendiri. Dari segi sosial keagamaan, setinggi-tinggi kebanggaan adalah bisa naik haji. Karena ongkos naik haji ke Mekah tidak murah, maka orang yang bisa pergi haji mestilah orang yang mampu secara materi.

   Menurut Fuad, guru yang cukup berwibawa di kampungnya adalah ayahanda Eep Saefulloh Fatah. Dengan Eep sendiri yang terpaut usia 4 tahun di atasnya, yang biasa ia panggil Mang Eep, Fuad banyak menghabiskan masa kanak-kanaknya, sejak main sepak bola, main layangan, mengaji bersama, dan latihan bela diri. “Sejak kecil Mang Eep itu memang cerdas,” kata Fuad. Fuad belajar ilmu hikmah dan beladiri dari keluarga Eep. Dan sebaliknya Eep belajar agama, mengaji al- Qur’an dan mendaras kitab kepada bapak dan ibunda Fuad. Ilmu hikmah—arti harfiahnya kebijakan, tapi umumnya dimaknai sebagai ilmu kebatinan untuk melindungi diri dari kejahatan—yang dipelajari Fuad terjalin erat dengan ilmu sabar dan ilmu ikhlas yang diajarkan ibunya. Tanpa sinerji yang kuat antara ketiganya orang akan mudah terjerumus pada sikap- sikap sombong dan tinggi hati, bahkan sewenang-wenang karena merasa “berilmu”. Pada saat itu, ilmu kebijakan tidak mendatangkan kebajikan, melainkan malapetaka, dan kian jauh dari nilainilai spiritual yang justru menjadi tujuannya. Fuad bersyukur karena Allah memberinya bakat kepekaan spiritualitas. Itu didapatnya dari tirakat hidup yang panjang melalui tempaan penderitaan dan olah spiritual yang memang akrab dalam kehidupan Munawar Fuad.